Lukman Manggo Blog


Bagian 1 – Satria Berbaju Zirah yg Berkilau, oleh Jude Deveraux
January 19, 2010, 1:31 pm
Filed under: Novel I Translated

SATU

INGRISS
1988

Dougless Montgomery duduk di kursi bagian belakang mobil sewaan, Robert dan putrinya yang gendut, yang berumur tiga belas tahun, Gloria, duduk di bangku bagian depan.
Seperti biasa Gloria sambil makan.
Dougless menggeser kakinya yang panjang untuk mencoba mendapatkan kenyamanan di tumpukan koper milik Gloria.

Ada enam potong koper kulit yang berukuran sama besar yang memuat barang-barang milik Gloria, dan karena koper-koper itu tidak muat dalam bagasi mobil, maka ditumpuk di kursi belakang bersama Dougless.
Ada sebuah peti rias di bawah kakinya, dan sebuah lemari besar yang diletakkan di sampingnya.
Setiap kali dia bergerak, dia bergesekan dengan pengait koper,  atau pegangan koper.
Sekarang ini dia merasakan gatal di bawah lututnya,  tapi dia bisa menggapainya.

“Ayah,”  Gloria merengek dengan suara cadel seperti anak berumur empat tahun,  “dia menggores tas yang ayah belikan untukku.”

Dougless mengepalkan tangannya, menutup matanya dan menghitung angka sampai sepuluh.
Dia.
Gloria tidak pernah menyebutkan nama Dougless secara langsung, tapi menyebutnya dengan Dia.

Robert berpaling ke arah Dougless.
“Dougless, bisakah kamu sedikit hati-hati ? Itu koper yang mahal.”

“Saya tahu itu,” Kata Dougless, berusaha memendam kemarahan keluar dari suaranya.
“Saya kesulitan duduk di belakang sini.  Ruangannya sempit.”

Robert menarik nafas dengan lesu.
“Dougless, apakah kamu harus mengeluh terus untuk semua hal ? Tidak dapatkah kamu membiarkan liburan ini jadi menyenangkan ? Saya Cuma minta kamu untuk bisa berusaha.”

Dougless membuka mulutnya untuk menjawab tapi menutupnya kembali. Dia tidak ingin memulai perdebatan yang baru.

Lagipula dia tahu bahwa itu tidak akan ada gunanya.
Jadi, alih-alih menjawab, dia malahan menelan kemarahannya -  kemudian mengelus-elus perutnya,  yang mulai berasa sakit lagi.

Dia akan meminta Robert untuk berhenti dulu, untuk meminum obat penenang yang telah diresepkan dokter untuk perutnya yang sakit.
“Terus minum ini untuk mag kamu”, kata dokter telah memperingatkannya.
Tapi Dougless tidak dapat memberikan kepuasan pada Gloria, hingga lagi-lagi dia mulai membuat kesal Dougless,  malahan sekarang dia membuat ganjalan antara Dougless dan Robert.

Saat Dougless melirik lewat kaca spion mobil dia dapat melihat Gloria yang tersenyum menyeringai padanya.
Dougless memalingkan mukanya dengan sungguh-sungguh dan mencoba berkonsentrasi pada keindahan alam  pedesaan Inggris.

Dari jendela mobil dia melihat ladang-ladang yang menghijau, pagar-pagar tua dari batu, sejumlah sapi, rumah-rumah kecil yang indah, rumah yang megah dan …  Dan Gloria, pikirnya.
Sepertinya Dougless melihat Gloria ada di mana-mana.
Robert terus berkata, “Dia hanyalah seorang anak kecil, yang telah ditinggalkan oleh ayahnya. Jadi merupakan hal yang wajar bila dia membuat permusuhan padamu.
Tapi tolonglah mencoba menunjukan sedikit simpati kepadanya. Dia sesungguhnya seorang anak yang manis bila kamu bisa mengenalnya.”

Seorang anak manis, pikir Dougless sambil memandang ke luar jendela.
Pada usia tigabelas tahun, Gloria lebih suka berdandan dibanding Dougless yang berumur duapuluh enam tahun – Gloria pun bisa menghabiskan berjam-jam di kamar mandi hotel untuk berdandan.
Gloria duduk di bagian depan.

Advertisement
Comments Off





Comments are closed.



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.