Lukman Manggo Blog


Turkish PM given hero’s welcome – BBC
January 30, 2009, 3:43 pm
Filed under: In English, News-Bilingual
Turkish PM given hero’s welcome Perdana Menteri Turki disambut sebagai Pahlawan

05:01 GMT, Friday, 30 January 2009

http://news.bbc.co.uk/2/low/business/davos/7859815.stm
Turkey’s PM has received a hero’s welcome on his return to Istanbul after he stormed out of a debate about Gaza at the World Economic Forum in Davos. Perdana Menteri Turki menerima sambutan sebagai pahlawan dalam kepulangannya di Istambul setelah dia keluar daro debat tentang Gaza pada Forum Ekonomi Dunia di Davos
Recep Tayyip Erdogan had reacted angrily when he was refused the chance to respond to Israeli President Shimon Peres’ defence of the operation Recep Tayyip Erdogan bereaksi marah ketika dia ditolak diberi kesempatan untuk menanggapi pembelaan Presiden Israel Shimon Peres.
Thousands of people turned out in the capital to greet Mr Erdogan’s plane. Ribuan orang turun di ibukota untuk menyambut pesawat Mr. Erdogan.
He told them Mr Peres’ language and tone had been unacceptable, so he acted to stand up for Turkish honour. Dia mengatakan kepada mereka bahwa bahasa dan intonasi Mr. PeresĀ  tidak dapat diterima, hingga dia beraksi demi kehormatan Turki.
I only know that I have to protect the honour of Turkey and Turkish people, said Mr Erdogan. Saya hanya tahu bahwa saya harus melindungi kehormatan Turki dan rakyatnya, kata Mr. Erdogan.
I am not a chief of a tribe. I am the prime minister of Turkey. I have to do what I have to do. Saya bukan pemimpin suku. Saya adalah Perdana Menteri Turki. Saya harus melakukan apa yg harus saya lakukan.
The BBC’s Sarah Rainsford in Istanbul said there had been huge anger in Turkey at Israel’s operation in Gaza and there now appears to be widespread support for Mr Erdogan’s actions in Davos. Sarah Rainsford dari BBC di Istambul mengatakan bahwa ada kemarahan yang besar di Turki pada operasi Israel di Gaza dan sekarang tampaknya menyebar luas dukungan pada aksi Mr. Erdogan di Davos.
This showed that Turks are standing on their feet in Europe, in the world Ini menunjukan bawa orang orang Turki berdiri pada kakinya sendiri di Eropa, di dunia.
Mustafa Mastar, Istanbul resident Mustafa Mastar, penduduk di Istanbul
Huge crowds were waiting at Istanbul airport in the early hours of the morning, with many people waving Turkish and Palestinian flags. Kerumunan masa menunggu di badnara Istambul pada pagi-pagi sekali, dengan banyak yang mengibarkan bendera Turki dan Palestina.
Correspondents said the crowds were shouting “Turkey is with you,” and that some were holding signs greeting Mr Erdogan as “a new world leader”. Para wartawan mengatakan bahwa kerumunan masa meneriakan “Turki bersamamu”, dan yang lain dengan membawa tanda penyambutan dengan “Pemimpin Dunia Baru”.
In Davos, all the world witnessed what has not been happening for many years, said Istanbul resident Mustafa Mastar. Di Davos, semua warga dunia menyaksikan apa yang harusnya tidak terjadi selama bertahun-tahun, kata warga Istambul Mustafa Mastar.
This showed the power of Turks. It showed that Turks are standing on their feet in Europe, in the world. Ini mepertunjukan kekuatan Turki. Ini menunjukan bahwa Turki bisa berdiri di kakinya sendiri di Eropa, di dunia.
Tonight I was really proud. I feel really happy, said Mustafa Sahin, another person in the crowd. Malam ini saya sangat bangga. Saya merasa bahagia, kata Mustafa Sahin, warga lainnya di kerumunan.
‘Matter closed’
During the debate on Thursday, Mr Erdogan had clashed with Mr Peres, whose voice had risen as he made an impassioned defence of Israel’s actions, jabbing his finger. Selama debat pada hari Kamis, Mr. Erdogan bertengkar dengan Mr. Peres, yang suaranya ditinggikan dengan penuh semangat membela aksi Israle, menunjuk-nunjuk jarinya.
Mr Erdogan said Mr Peres had spoken so loudly to conceal his “guilt”. Mr. Erdogan berkata bahwa Mr. Peres berbicara terlalu lantang untuk menyembunyikan “kesalahan’nya.
He said many people had died in Gaza and he found it sad that anyone would applaud Mr Peres for defending Israel’s actions. Dia mengatakan bahwa sangat banyak orang yang mati di Gaza dan dia (menemukan) bahwa hal itu meneydihkan karena siapapun yang yang mengeluk-elukan Mr. Peres dalam mempertahankan aksi Israel.
He then accused the moderator of not allowing him to speak and said he did not think he would return to Davos. Dia lalu menuduh bahwa moderator tidak mengizinkannya berbicara dan mengatakan bahwa dia tidak akan berpikir untuk kembali ke Davos.
The Turkish PM stressed later that he had left the debate not because of his disagreements with Mr Peres but because he had been given much less time to speak than the Israeli leader. Perdana Menteri Turki selanjutnya menekankan bahwa dia meninggalkan debat tidak karena ketidaksetujuannyadengan Mr. Peres, namun karena diberikan diberikan waktu yg sedikit untuk berbicara dibanding pemimpin Israel.
He said he respected Mr Peres but that “what he says is not true”. Dia mengatakan bahwa dia menghormati Mr. Peres namun bahwa ,”apa yang dikatakannyatidak benar”.
Turkey is one of the few Muslim countries to have dealings with Israel, but relations have been under strain since the Islamist-rooted AK Party was elected to power in 2002. Turki adalah satu dari sedikit negara muslim yg memiliki perjanjian dengan Israel, namun hubungan mengalami ketegangan sejak partai berakar islam AK terpilih dan berkuasa pada tahun 2002.
But Mr Erdogan stressed to the crowds in Istanbul that “our hard words are not directed towards the people of Israel, not directed at the Jews, but they are totally directed towards the government of Israel”. Namun Mr. Endorgan menegaskan kepada kerumunan masa di IstambulĀ  bahwa “kata-kata keras kita tidak ditujukan kepada warga Israel, tidak kepada kaum Yahudi, namun sesungguhnya kepada Pemerintah Israel.
He said no decision on Turkish-Israeli relations would be made “driven by momentary anger on such issues”. Dia mengatakan bukanlah keputusan dalam hubungan Turki-Israel yang menjadikan “mengarah pada kemarahan untuk masalh ini”
More than 1,300 Palestinians and 14 Israelis were killed during the three-week conflict in Gaza, which began on 27 December. Lebih dari 1,300 warga Palestina dan 14 Warga Israel tewas selama tiga minggu konflik di Gaza, yang dimulai apda tanggal 27 Desember.
Comments Off