Filed under: Cerita Rakyat/Folk Story Bilingual
Satria Berbaju Zirah yg Berkilau
Oleh Jude Deveraux
Diterjemahkan secara asal oleh Lukman Manggo
Pendahuluan
INGGRIS
Nicholas mencoba berkonsentrasi pada surat yang dia tujukan untuk ibunya, surat yang mungkin yang terpenting yang pernah ditulisnya. Segalanya tergantung pada surat yg dia tulis ini; kehormatannya, kekayaanya, keluarganya di masa depan –dan kehidupnya.
Namun ketika dia baru menulis, dia mulai mendengar suara seorang wanita yang sedang menangis. Karena merasa terganggu, dia pun bangun dari meja kecil dan melihat ke pintu kecil di halaman. Ada empat lakilaki yg sedang berjalan, namun tidak ada seorang wanita pun di sana. Lagipula, dia sedang berada di lantai tiga, hingga tidak akan mungkin bisa mendengar suara itu. Ruangan tempatnya berada memiliki dinding yang sangat tebal sehingga suara dari luar tidak akan bisa masuk, dan juga pintu yang terbuat dari pohon Oak yang tebal dan dilapisi dengan besi.
””Wanita itu tidak ada ..”, “katanya pada dirinya sendiri, lalu * then gave a shiver as he crossed himself. Dia duduk kembalidi atas meja dan mulai menulis lagi.
Tapi baru saja dia duduk, dia mendengar suara wanita itu lagi. Tangisan itu mulanya lembut, namun berangsur semakin keras.
Sesaat Nicholas memiringkan kepalanya ke samping dan mencoba mendengarkan. Ya, wanita itu menangis, tapi tangisannya terdengar bukan karena ketakutan, atau tangis kepedihan. Bukan, dia dapat merasakan penyebab penderitaan wanita itu yang datang dari sesuatu yang lebih dalam.
”Tidak!” serunya dengan kencang. Dia tidak ada waktu memahami wanita ini, apakah dia ini adalah manusia biasa atau hantu. Sekarang ini, yang dibutuhkannya juga sama dengan wanita ini. Dia lalu kembali mencurahkan perhatiannya pada surat yang ditulisnya, namun dia tidak bisa berkonsentrasi. Tangisan wanita ini *mengejarnya. Dia membutuhkan sesuatu, namun dia tidak tahu apa itu. Apa wanita itu perlu dihibur ? Ditenangkan ? Apa yang dia inginkan darinya ?
Dia letakkan penanya, lalu tangannya menutupi matanya. Tangisan wanita itu masih memenuhi pikirannya. Tidak, pikirnya, sepertinya yang dibutuhkan wanita itu adalah harapan. Tangisan yang berasal dari seseorang yang tidak memiliki lagi harapan.
Setelah memutuskan untuk mengalihkan pikirannya ke masalahnya sendiri, Nicholas kembali menatap surat yang ditulisnya. Itu masalah dia sendiri, bukan masalahnya. Bila dia tidak bisa menyelesaikan surat ini dan memberikannya segera kepada pesuruh yang sudah menunggunya, maka hidupnya sendiri akan tanpa harapan.
Nicholas baru saja menuliskan dua baris kalimat, namun terpaksa dia harus berhenti. Tangisan itu makin bertambah, semakin keras. Bertambah keras suaranya seakan memenuhi setiap sudut ruangan – dan setiap sudut dalam pikirannya.
”Hai Wanita,”dia berbisik, suaranya penuh dengan keputusasaan, “Berikanlah saya ketenangan. Saya akan memberikan hidupku untuk dapat membantumu, tapi saya tidak bisa. Hidupku sudah dijanjikan ditempat yang lain.”
Sekali lagi dia mengambil pena dan mencoba untuk menulis, kali ini dengan tangan yang lain melewati telinga, semampunya menutupi suara wanita itu.
Namun Nicholas tidak bisa menutup diri untuk tidak mendengarkannya. Dia jatuhkan penanya, hingga tinta berceceran di atas dokumen, lalu diletakkannya kedua tangannya di telinganya dan menutup matanya dengan erat.
Namun *his pleas tak berarti apa-apa, tangisan wanita itu semakin keras menjadi-jadi hingga isi kepala Nicholas mulai berputar-putar. Perlahan dia membuka matanya namun dia tidak melihat apa-apa. Di hadapannya hanyalah gelap. Dia bisa melihat dinding ruangan atau pintu, Dia dapat merasakan kursi di bawahnya, namun dia tidak sanggup lagi melihat meha atau surat yang itu teramat penting baginya.
Lalu ketika sedang duduk, muncul sebuah cahaya kecil dari kejauhan, dan Nicholas merasakan dirinnya terseret ke dalam cahaya itu. Dia melihat bahwa titik cahaya itu jauh, seakan-akan hidupnya tidak berarti lagi selain cahaya itu.
”Ya,” Bisiknya. Dia menutup matanya dan mempasrahkan dirinya pada suara tangisan wanita itu. Perlahan tubuhnya menjadi tenang dan dia rebahkan kepalanya di samping surat yang sedang dia tulis. “Ya,” dia berbisik kembali seakan dia sudah menyerah pada dirinya sendiri.
=====
Selanjutnya : Bab 1
No fear at all. On her curiosity she want to play anithing. Dangerious of course.
Yesterday afternoon was very hot. My daughter has not comfort as well . Then let her has ice cream … She s happy and
Let her do it. I could do nothing. Her age and her couriosity grow up. She rush and play arround in my room and make a messi. Afterward when she bore, clung on my arm or lay down on bed and watching baby TV.
It is just little bit chore. Every morning before both my wife ride to office we feed my daughter. Now she has been feed her self.
It is May 31st 2009. When my wife went to her relative house and I have a duty to take care my daughter alone.
Here Langit Luna is. She just easy to have her milk and watching TV. Mosly she favor on Cbebies or Baby TV Channel.
Check my daugher out on Angkasa birthday held on 10 May.
She was astonished by crowd people arround. On the time to cake breaking .. she was coming interupt her mom all the time
Angkasa, her cousing as happy as well. Happy birthday dear Angkasa. Wish all good on you.
My daughter, Langit Luna and her cousin, Angkasa, was playing at the house yard. They have enjoyed running arround.
I ride them by bike .. – It was on saturday 25th when I was off to office. And it was my special day – my birthday.

